Main Cast :
Support Cast :
Heheheh.. kali ini author tumben-tumbenan bikin FF yang temanya
hurt. tapi kayaknya gak berhasil deh alias gagal total. tapi semoga
tetep menarik deh ya.. kalau ada kritik dan saran, tulis aja di kolom
komentar ^^
Check This out :
—-o0o——
Mencintai itu…
Mengkhawatirkannya di saat dia pergi tanpa kabar..
Merindukannya di saat dia jauh..
Menangis untuknya di saat dia terjatuh..
Menguatkannya di saat dia putus asa..
Dan, bersabar untuknya di saat dia mengabaikan dan tak mempedulikan..
–Kim So Eun—
—o0o—
Prolog
“Kau tahu, aku sangat membencimu”
Bagai petir yang turun dari langit dengan kecepatan cahaya, kalimat
menyakitkan itu terucap begitu saja dari mulutnya. Aku tertegun menatapi
pecahan piring dan gelas yang berserakan di sekitarku dengan mata
berkaca-kaca.
Aku tidak sanggup untuk mengangkat kepala ataupun melihat punggungnya
yang menjauh. Samar-samar terdengar suara keras pintu yang ditutup
secara paksa. Aku tahu, keberadaanku dalam hidupnya tidak ada dalam
rancangan masa depan yang sudah di susun olehnya sejak dulu. Kenyataan
dia membenciku, tak perlu di bantah lagi. Aku sangat mengetahuinya.
Janjinya di depan altar untuk menjalin ikatan suci denganku selamanya
hanyalah dusta semata. Sebuah noda besar dalam catatan hidupnya. Dia
tidak pernah mencintaiku. Tapi haruskah dia mengutarakannya dengan
gamblang?
Perkataannya sangat menyakitkan, sungguh. Namun rasa perihnya tidak
cukup untuk melukaiku karena yang kutahu..aku sangat mencintainya.
The Story Begin..
======o0o======
Author POV
Apgujeong-Dong, 15.00 KST
So Eun menarik napasnya yang terasa berat. Meskipun rasa sakit dan sesak
menggerogoti paru-parunya ia tetap harus mengatakan hasil renungannya
selama dua hari belakangan. Kepalanya terangkat ke arah sesosok pria
yang duduk di seberang, tengah menatapnya dengan mata sendu.
“Maaf” seuntai kata mulai terurai dari mulutnya. So Eun kembali
membasahi bibirnya yang terasa begitu kering. Ia benar-benar gugup dan
hatinya terasa berat.
“Aku tahu ini keputusan yang sulit. Namun aku yakin ini adalah yang terbaik untuk kita” jelasnya dengan suara lirih dan dalam.
Lee Donghae mengangkat kepalanya menatap wanita yang kini tampak begitu
resah. Siapapun tidak akan ada yang bisa menebak seperti apa perasaannya
sekarang. Karena sesungguhnya, ia merasa sekarang adalah akhir dari
kisah cintanya bersama So Eun. Wanita yang selama beberapa bulan
terakhir mengisi hidupnya.
“Bisakah kau memikirkannya lagi? kumohon” pinta Donghae—panggilan pria
itu—dengan nada sungguh-sungguh. Tangannya sedikit meremas tangan So Eun
yang digenggamnya.
“Keputusanku sudah final” gumam So Eun seraya menarik tangannya. Dengan mata berkaca-kaca ia menatap pria di hadapannya.
“Hubungan kita berakhir sampai di sini.”
Donghae merasa dunianya runtuh begitu vonis mati terlontar dari mulut
So Eun. Dalam mimpi pun ia tidak pernah memikirkan bahwa hubungannya
akan berakhir seperti ini. Sudah terlalu banyak rencana yang sudah
dirancangnya untuk So Eun. Masa depannya sudah dirancang demi So Eun.
Mengapa Tuhan dengan begitu baiknya memberikan cobaan seberat ini
padanya? Hubungannya dengan So Eun harus berakhir detik ini juga.
Aku tidak akan menyesal. Ini adalah keputusanku. Batin So Eun.
—o0o—
So Eun POV
Apa kalian pikir aku ini gadis gila karena sudah memutuskan pria sebaik
dan sepengertian Lee Donghae? Sepertinya iya. Aku memang sudah gila.
Tak ada alasan untuk memutuskan pria semacam Donghae. Dia baik dan
tampan. Dia pria yang sangat romantis dan sikapnya seperti ksatria.
Terlalu banyak gadis yang patah hati saat kami menjalin hubungan pertama
kali. Kami saling mencintai dan selama merajut kasih tak pernah
sekalipun kami bertengkar. Dan malam ini, aku sudah menorehkan luka.
Perlu waktu sekitar dua minggu untukku merenungkan keputusan ini. Tepat
di saat Appa jatuh sakit karena penyakit paru-paru yang dideritanya
semakin memburuk. Mendadak saja Appa memanggilku dan mengatakan bahwa
aku harus menuruti permintaannya. Jika tidak ia tidak akan pernah pergi
dengan tenang.
Sebagai seorang putri, aku tidak pernah tega menyakiti hati rapuh Appa.
Dia adalah pria terbaik dalam hidupku. Memberiku begitu banyak cinta dan
sekarang ia hanya menuntut satu kepatuhan dariku.
Aku harus menikah dengan pria pilihannya.
Mulutku bagaikan kelu. Aku ingin sekali berkata bahwa aku sudah memiliki
Donghae dan kami berencana menikah akhir tahun ini. Namun kalimat yang
tersendat di ujung lidah itu seolah membeku dan enggan terucap oleh
bibir ini. Aku tidak sanggup meredupkan sorot mata Appa yang gembira
saat itu. aku tidak akan bisa menghancurkan kebahagiaan Appa saat
mengatakannya.
Maka, dengan hati terluka kukatakan pada Appa bahwa aku bersedia memenuhi keinginannya.
Di saat itu juga, aku merasa sangat bersalah. Bersalah karena kelak aku
akan mengecewakan satu hati yang mencintaiku dengan tulus. Lee Donghae.
“Cantik sekali putriku.”
Aku hanya tersenyum seadanya ketika Eomma melihat pantulan diriku dari cermin. Dia menghampiriku.
“Eomma tak menyangka kau akhirnya akan menikah juga.” lirihnya terharu sambil mengelus lembut rambutku.
“Aku belum menikah, Eomma. Bukankah malam ini aku hanya akan bertemu
dengannya, calon yang Appa pilih untuk menjadi suamiku” ucapku sok di
buat bahagia. Bukankah aku seorang pendusta yang hebat? Aku berpura-pura
bahagia di depan orangtuaku.
“Baiklah, baiklah. Eomma tunggu kau di luar. Jangan berdandan terlalu
lama karena Eomma yakin, tanpa berdandan pun kau tetap bisa membuat Choi
Siwon terpesona.” Eomma mengerlingkan matanya nakal sebelum beranjak
meninggalkan ruangan.
Aku menghela napas berat. Choi Siwon. Itulah nama calon suamiku. Aku
bahkan tidak tahu seperti apa dia. Ku raih ponsel yang tergeletak di
atas meja rias lalu melihat wallpaper ponselku yang menampilkan fotoku
dengan Donghae saat kami pergi berdua ke Pulau Jeju bulan lalu. Ah, aku
benar-benar merindukannya.
—o0o—
Di kediaman keluarga Choi, kami berbincang hangat selayaknya
keluarga. Sampai detik ini aku masih tidak tahu mengapa Appa begitu
ingin berbesan dengan keluarga Choi. Apa karena hartanya? Mengingat
keluarga Choi adalah owner dari Hyundai Departement Store dan kupastikan
asset mereka bernilai puluhan juta dolar. Kuakui mereka pun begitu
ramah dan baik. Nyonya Choi bahkan sudah memberiku wejangan saat aku
sudah menjadi istri putranya kelak. Dia tipikal seorang ibu yang hangat
seperti Eomma. Tapi aku yakin bukan itu alasannya. Meskipun keluarga
kami termasuk kalangan menengah, Appa tidak pernah mengharuskanku
menikah dengan pria kaya.
“Siwon-ssi..dia seperti apa?” aku penasaran sekali karena setelah lewat
satu jam kami berbincang di ruangan ini, sosok Siwon belum terlihat
batang hidungnya. Nyonya Choi mengatakan bahwa putranya mungkin sibuk
dengan tugas di kantor. Aku memakluminya.
“Ah, Dia anak yang baik. Kau pasti akan menyukainya saat bertemu nanti.”
Aku menjawabnya dengan senyuman. Semua ibu pasti akan berkata begitu.
Aku penasaran seperti apa rupanya karena aku tak menemukan satupun foto
Siwon di ruangan ini.
Ponselku bordering keras sehingga menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar untuk menoleh ke arahku.
“Maaf, aku harus menjawab telepon..” aku membungkukkan kepala sejenak
lalu beranjak ke luar ruangan. Setelah berada di tempat yang bebas dari
kebisingan, aku segera menekan tombol hijau.
“Yeobseo..” ucapku sebiasa mungkin. Tak kupungkiri jantungku masih
berdetak kencang karena tak lama lagi aku akan mendengar suara Donghae.
“Bagaimana kabarmu?”
Mulutku kembali bungkam. Pertanyaan sederhana semacam itu mampu membuatku terpaku. Bagaimana ini, apa yang harus kukatakan?
“Baik.” jawabku singkat. Aku mengedarkan pandangan ke halaman depan rumah keluarga Choi yang tertata rapi dan cukup luas.
“Syukurlah. Kau tahu So Eun, aku sekarang sedang berada di Bandara.”
Aku agak terkejut mendengarnya. “Kau akan pergi kemana?”
“Ke Jepang. Selama beberapa minggu aku ingin menenangkan diri di sana.”
“Jinjja?” tanpa kusadari suaraku semakin melemah. Aku sedih mendengar
Donghae berkata begitu lirih. Maafkan aku karena sudah menyakiti hati
pria polos sepertimu.
“Aku sudah mendengarnya dari kakakku mengenai pernikahanmu. Selamat. Aku
mungkin tidak bisa datang tapi aku akan selalu mendoakanmu darimanapun
tempatku berada.”
Sesak. Dadaku semakin sesak mendengarnya. Ya Tuhan, darimana gosip ini
berasal? Aku bahkan belum bertemu dengan calon suamiku sementara berita
tentang rencana pernikahanku sudah menyebar kemana-mana?
Aku menundukkan kepalaku mencoba menahan airmata. “Mianhae..”
“Gwenchana. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Baiklah, semoga kau bahagia
Kim So Eun. Mungkin setelah aku kembali kau sudah menyandang marga baru
di depan namamu. Sekarang aku hanya berharap kau bisa kembali padaku
meskipun itu rasanya mustahil.”
Aku baru membuka mulut ketika secara tiba-tiba Donghae memutus
sambungan. Aku tercengang menatap ponselku. Dengan begini, hubungan kami
resmi berakhir.
Paru-paruku rasanya sesak dan perih hingga membuatku sulit bernapas.
Airmata sudah menggenang di pelupuk mata dan siap untuk jatuh. Namun
rasa sedihku seperti menguap entah kemana ketika aku mendengar
suara-suara asing di belakangku. Kubalikkan tubuh perlahan untuk melihat
apa yang terjadi.
Sebuah mobil coupes berwarna abu-abu metalik berhenti tepat di depan
teras rumah. Tak lama kemudian seorang pria keluar dari mobil. Mataku
mengerjap menatapnya. Pria muda berusia sekitar 27 tahun dengan jas
kantor yang melekat pas di tubuhnya. Mungkinkah itu Choi Siwon? Aku
hampir melangkah mendekat namun langkahku terhenti ketika melihat
seorang gadis ikut turun dari pintu lain. Gadis itu mendekati sang pria
yang tersenyum menatapnya. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaanku.
Dan adegan yang kulihat berikutnya benar-benar membuat seluruh tubuhku terpaku.
—-o0o—-
Author POV
Siwon merasa seluruh tubuhnya remuk dan pikirannya berantakan. Sudah
cukup ia dipusingkan oleh urusan kantor yang tak pernah habis sekarang
permasalahan dalam hidupnya harus di tambah oleh recokan orangtuanya
mengenai pernikahan. Otaknya bisa meledak karena terlalu banyak beban
yang ditanggungnya.
Sebagai satu-satunya putra dalam keluarga Choi, ia harus mengemban
tanggung jawab yang sangat berat dengan meneruskan perusahaan yang
dikelola keluarganya dan hidupnya seakan-akan direnggut. Kebebasannya
terambil dan sekarang kepatuhan apa lagi yang harus ditaatinya?
Menikah dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya hanya karena perjanjian para orangtua di masa lalu? What the—
“Jika kau keberatan biar aku saja yang menyetir, sayang..” suara lembut
membuyarkan lamunan Siwon. Ia mengerjap lalu menoleh sekilas ke arah
gadis yang duduk di sampingnya. Demi menenangkan, Siwon memamerkan
senyum manis andalannya.
“Gwaenchana. Aku tidak enak karena harus meminjam mobilmu untuk pulang..”
Park Eunji, gadis dengan rambut bergelombang itu mendesah pelan. Ia
tahu Siwon sedang dalam masalah. Karena itu ia tidak bisa membiarkan
Siwon pulang seorang diri. Pria ini bisa saja menabrakkan mobilnya saat
sedang kalut ataupun bingung.
“Apa rencana perjodohan itu tidak bisa dibatalkan?” akhirnya Eunji
memutuskan untuk bertanya karena hatinya pun tidak tenang sejak Siwon
mengatakan tentang pernikahannya yang sudah dirancang sejak kecil itu.
Siwon mendesah berat. “Andaikan aku bisa. Namun kau tentu tahu seperti apa Orangtuaku.” Erangnya frustasi.
Selama ini Siwon memang seringkali membuat kedua orangtuanya pusing
dengan kelakuannya yang sulit sekali diatur. Namun ayahnya selalu
memiliki cara untuk membuatnya patuh. Termasuk kali ini.
“Bukankah selama ini kau sudah cukup menjadi pemberontak? Apa salahnya
jika kau menjadi pemberontak hingga akhir. Katakan yang sesungguhnya
bahwa kau tidak menginginkan pernikahan ini. Sehingga kita..” Eunji
menghentikan kalimatnya karena mendadak hatinya pun terasa sesak.
Bukankah mereka saling mencintai? Bukankah seharusnya Siwon menikahinya? Mengapa sekarang muncul masalah kompleks seperti ini?
“Aku tahu, Eunji. Aku pun ingin sekali menikah dengan gadis yang
kucintai namun..” Siwon melirik sekilas ke arah Eunji yang menatapnya
nanar lalu kembali memokuskan pandangan ke arah jalanan di depannya.
“Arraseo. Sebaiknya kita bicarakan ini lain kali saja” ucap Euji sambil memalingkan pandangan.
Tanpa sadar, Siwon sudah berada di dekat rumahnya. Ia segera
memasukkan mobil ke dalam halaman rumah lalu menghentikannya di depan
teras rumah. Ia terdiam sejenak. Mengapa rasanya ia ragu untuk keluar?
Ia tahu gadis yang dijodohkan dengannya ada di dalam sana sekarang.
“Turunlah. Sekarang bukan saatnya kau kabur dari permasalahan ini.” Hibur Eunji sambil menggenggam tangannya.
Siwon menarik napas dalam dalam lalu mengangguk. “Kau benar.” Kemudian
ia membuka pintu lalu turun. Eunji ikut turun. Ia menghampiri Siwon yang
berdiri di depan teras rumahnya. Pria itu memaksakan seulas senyum
meskipun hatinya sedang kacau. Ya, senyum indah yang terlalu mempesona.
Tak bisa dipungkiri bahwa Choi Siwon memang sosok yang sangat
menyilaukan di matanya. Begitu tampan dan memikat.
Siwon meraih pinggang Eunji mendekat lalu memberikan kecupan selamat malam yang singkat namun berkesan.
“Selamat malam. Semoga tidurmu nyenyak..” bisik Eunji lalu kembali mencium bibir Siwon.
“Hati-hati di jalan. Besok aku akan menjemputmu..” balas Siwon. gadis
itu tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Tak lama mobil itu
menghilang dari rumahnya. Siwon menatap kosong ke arah depan. Dalam hati
ia menggumam. Akhirnya, aku tetap akan mengecewakanmu Park Eunji.
Siwon membalikkan badan. Ia berjalan santai menuju pintu rumahnya
namun langkah kakinya terhenti ketika matanya menangkap sosok gadis yang
berdiri di dekat pintu masuk, menatapnya dengan mata membulat.
“Nuguseyo?” tanya Siwon sedikit angkuh pada gadis itu. Siapa dia?
Mengapa bisa berdiri di depan pintu masuk rumahnya? Gadis itu terkesiap
beberapa saat.
“Aku Kim So Eun” dengan gugup gadis itu memperkenalkan diri. Siwon
mengamatinya dari ujung rambut hingga kaki lalu mengendikkan bahu tak
peduli. Ia tidak mengenal gadis ini maka tak ada alasan baginya untuk
berbicara lebih. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah. Namun langkah
kakinya terhenti saat ia baru menyadari satu fakta yang terlupakan.
Mungkinkah gadis ini yang dimaksud kedua orang tuanya?
Siwon menatap lekat-lekat gadis di hadapan dan tanpa disadarinya
sedikitpun bahwa tatapannya mampu membuat So Eun gugup setengah mati.
Ada apa dengan jantungku? Mengapa aku berdebar-debar meski hanya ditatap olehnya?
“Apa kau gadis yang akan dijodohkan denganku?” tanya Siwon langsung,
membuat Eunji kembali mengerjap kaget. Otakknya bekerja sangat lambat
dan ia bingung harus bagaimana menjawabnya. Ternyata benar, pria di
hadapannya ini Choi Siwon. Ia tidak menyangka sama sekali jika Choi
Siwon setampan ini.
“N-Ne..” jawabnya terbata.
Siwon berdecak, seperti meremehkan. “Kukira gadis seperti apa yang
selalu dipuji-puji orangtuaku. Rupanya kau tak lebih dari gadis biasa
yang sering kutemui di mana-mana.” Ucap Siwon sambil lalu. So Eun
terpaku mendengarnya. Mengapa ia berkata seangkuh itu? apa benar ia akan
menikahi pria dengan sikap dingin sepertinya?
Dengan hati bimbang, So Eun mengikuti Siwon masuk ke dalam rumah. Di
sanalah masalah baru muncul. Orangtuanya resmi memutuskan untuk
menikahkan mereka sesegera mungkin.
—o0o—
Siwon POV
Pranggg!!!
Kubanting sloki berisi minuman bening dengan keras ke lantai. Ini
sebagai wujud rasa frustasiku selama seminggu ini. Bagaimana mungkin
orangtuaku memutuskan untuk mempercepat pesta pernikahanku dengan gadis
bernama So Eun itu? Apa yang bagus dari gadis itu? ia bahkan tidak
berasal dari keluarga berada dengan latar belakang pendidikan yang bagus
seperti Park Eunji. Dia hanya gadis biasa, berasal dari keluarga
menengah dan hanya lulusan universitas biasa di Seoul. Tidak menarik
sedikitpun.
Aku benar-benar heran mengapa orangtuaku begitu membanggakannya di
depanku. Mereka selalu berkata bahwa So Eun adalah wanita yang baik,
patuh, dan penyayang. Lalu apa gunanya jika aku tidak mencintai gadis
baik, patuh dan penyayang seperti itu?
Aku hanya ingin mereka mendengar sekali saja, bahwa aku mencintai Eunji.
Aku berniat menikahinya setelah hak waris atas perusahaan Appa jatuh
ketanganku. Karena itu aku bekerja sekeras ini selama tiga tahun
terakhir. Namun siapa sangka jika syarat hak waris itu adalah AKU HARUS
MENIKAHI SO EUN!!!
“Kenapa kau banting gelasnya? Kau tahu itu kubeli di Eropa!!”
Aku menoleh sebentar ke arah Cho Kyuhyun yang sekarang sedang berkacak
pinggang sebal di depanku. Tak kuhiraukan ocehannya. Masalahku sudah
cukup rumit tanpa harus ditambah dengan amukan darinya.
“Aku akan menggantinya. Kau tenang saja. dasar pelit.” Gumamku linglung.
Aku baru sadar bahwa sudah satu botol wine kuhabiskan. Aku terbiasa
datang ke rumah Kyuhyun—teman baikku—jika aku sedang kalut. Aku tahu dia
selalu menyimpan banyak stok wine di rumahnya. Dan dia tidak pernah
pelit memberiku meskipun harganya tidak murah.
“Masalahmu belum terselesaikan juga?” tanyanya mengambil kursi di sampingku.
“Justru semakin rumit. Aku harus menikah dengan gadis itu.”
“Jinjjayo? Itu bencana besar. Lalu bagaimana dengan Park Eunji? Kau sudah berjanji akan menikahinya bukan?”
Aku tersenyum pahit mengingat pernjanjian konyol yang sempat kuutarakan
ketika ulangtahunku beberapa minggu lalu. Di depan teman-temanku yang
kuundang dalam pesta, kukatakan bahwa aku hendak mempersuntingnya tak
lama lagi. Itu terjadi sebelum Appa dengan egoisnya mengatakan aku harus
menikahi gadis bernama Kim So Eun itu jika ingin mendapatkan hak waris
atas perusahaan.
“Bagaimana jika kau kawin lari saja?”
Kujitak segera kepalanya begitu kalimat tak bertanggungjawab itu meluncur dari mulutnya. “Kau ingin Ibuku bunuh diri!” teriakku.
“Arra..” Kyuhyun mengusap kepalanya. Aku kembali mendesah setelah
menyadari sekarang sudah waktunya untuk melakukan ritual membosankan
seperti fitting baju pengantin. Oh, Tuhan.. andai aku memiliki mesin
waktu. Aku ingin pergi ke dimensi lain saat ini. Aku sungguh tidak ingin
bertemu dengan gadis itu.
—o0o—
Author POV
Waktu berlalu tanpa terasa. Pernikahan mewah putra pemilik Hyundai
departement store akhirnya digelar di hotel berbintang itu. Semua orang
ikut berbahagia tak terkecuali seorang gadis yang berdiri di samping
pria yang beberapa saat lalu menjadi suaminya, Kim So Eun.
Terbilang satu minggu yang lalu ia bertemu dengan Choi Siwon. Pikirannya
terlalu kalut hingga saat tersadar esok adalah hari pernikahannya.
Terlalu sedikit waktu untuknya memahami sosok Choi Siwon. Hari pertama
bertemu pria itu begitu dingin. Ia sempat melihat ekspresi menolak dari
wajahnya meskipun Siwon tidak membantah ataupun menyela saat Tuan Choi
memutuskan untuk mempercepat waktu pernikahan. Kedua kalinya bertemu
pria itu tetap acuh tak acuh. Bahkan saat So Eun begitu terpukau melihat
Siwon dalam balutan tuxedo hitamnya, pria itu tetap memasang wajah
dingin. Dan sekarang, hari ketiga pertemuan yaitu di hari pernikahan
yang seharusnya menggembirakan ia justru mendapatkan ekspresi pura-pura
darinya.
Meskipun Siwon tersenyum, jauh di lubuk hati So Eun sadar bahwa itu
hanya senyum palsu demi mengelabui orang-orang. Dan ia merasa sangat
bersalah karenanya.
Di sudut aula pesta, seorang gadis berdiri dengan tatapan tertuju
pada dua mempelai yang tampak berbahagia di depan sana. Hatinya seperti
teriris pisau melihat pria yang dicintainya bersanding dengan wanita
lain di pelaminan. Padahal ia selalu yakin ia yang akan menempati posisi
itu. Bukan gadis bernama Kim So Eun.
“Baiklah, Choi Siwon. Kau yang sudah membuatku menjadi wanita jahat”
gumamnya dengan suara berat dan tajam, matanya menusuk ke arah Siwon
yang tersenyum ramah pada orang-orang yang memberinya selamat.
Bukankah pengkhianatan mampu mengubah hati seseorang menjadi iblis?
To be continued..